Master Junior Islamic Love for all Hatred for none
Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 November 2009

SAHABAT-SAHABAT ALLAH SWT

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
نَحْمَدُهُ وَنُصَلِّىْعَلَى رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَىعَبْدِهِ اْلمَسِيْحِ اْلمَوْعُوْدِ

KHUTBAH JUM’AH
HAZRAT AMIRUL MU’MININ KHALIFATUL MASIH V atba.
Tanggal 13 November 2009 dari Baitul Futuh London U.K.
TENTANG :
SAHABAT-SAHABAT ALLAH SWTؕ‏ اَلاَ اِنَّ اَوْلِيَآءَ اللّٰهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَۖ - الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَؕ‏ - لَهُمُ الْبُشْرٰى فِىْ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِىْ الاَخِرَةِ‌ؕ لاَ تَبْدِيْلَ لِـكَلِمٰتِ اللّٰهِ‌ؕ ذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُؕ‏
Artinya : Ingatlah ! Sesungguhnya sahabat-sahabat Allah itu tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan berduka cita--Orang-orang yang beriman dan senantiasa bertaqwa-Bagi mereka ada khabar suka dalam kehidupan didunia dan juga di akhirat- tak ada perubahan didalam firman-firman Allah-itulah kemenangan yang besar. (Yunus : 63-65)
Didalam ayat ini Allah swt menjelaskan tentang keadaan dan sifat-sifat wali Allah, yaitu tidak ada rasa takut menimpa diri mereka, yang kedua, mereka tidak merasa sedih atau duka cita. Mereka itu mempunyai iman yang kamil dan sempurna dan meningkat terus didalam ketaqwaan mereka. Dan mereka yang menjadi wali atau sahabat Allah swt maka Allah swt menjadi wali atau sahabat mereka dan didunia jini juga mereka menerima khabar-habar suka dari Allah swt dan diakhirat juga. Itulah rangkaian nikmat-nikmat yang dianugerahkan Allah swt terhadap orang-orang mukmin yang sejati. Yakni berkat adanya ikatan hakiki dengan Allah swt dan adanya amal-amal saleh yang selalu dilakukan orang-orang mukmin, sehingga mereka merasa hidup tenteram tidak ada kesedihan atau kesusahan yang menimpa mereka. Bisa saja timbul marabahaya, sehingga terpaksa harus menjalani berbagai macam ujian dan percobaan, akan tetapi orang mukmin sejati akan merasa tenteram sekalipun didunia ini menghadapi banyak kerugian berupa harta-benda ataupun jiwa raga, sebab Allah swt pasti akan mengganti sepenuhnya. Dan jika terjadi kerugian jiwa-raga atau nyawa, pastilah Allah swt akan menganugerahkan nikmat-nikmat-Nya dialam akhirat nanti. Begitu sempurna dan melimpahnya nikmat-nikmat itu sehingga berada diluar jangkauan pikiran manusia. Akan tetapi untuk itu Allah swt telah menetapkan syaratnya yang pertama yaitu manusia harus menyempurnakan hak kewajibannya sebagai sahabat Allah swt. Untuk persabatan duniawi saja kadangkala manusia harus mengeluarkan banyak jenis pengurbanan. Untuk menjadi sahabat Allah swt dan untuk menunaikan hak-haknya secara sempurna, manusia bukan hanya bersiap sedia secara mental setiap sa’at, bahkan untuk itu harus bersiap melakukan hak-hak kewajiban itu secara praktikal atau secara amaliah dengan penuh keikhlasan. Jika hal itu semua telah dilaksanakan dengan sempurna maka tidak akan ada rasa takut dan rasa sedih atau duka cita yang ditimbulkan dari luar. Timbulnya rasa takut kepada Tuhan maksudnya takut jangan-jangan persahabatan dengan Allah swt akan putus atau berakhir. Sebab para wali itu terhindar dari rasa takut yang bersifat duniawi.
Imam Raghib menulis : الخَوْفُ مِنَ اللهِ takut dari Allah artinya menghindarkan diri dari perbuatan dosa dan berusaha untuk patuh ta’at kepada Allah swt, berusaha menjadi hamba yang kamil dan memberi perhatian sepenuhnya terhadap ibadah kepada-Nya. Jadi, kedudukan wali Allah, tidak mudah dicapai dan tidak bisa diperoleh begitu saja tanpa usaha keras. Disatu tempat Allah swt befirman :
تَتَجَافٰى جُنُوْبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَّطَمَعًا وَّمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ‏
Artinya : Dan sisi badan mereka terpisah dari tempat tidur mereka, yakni mereka tinggalkan tempat tidur mereka untuk menunaikan ibadah, dan mereka berseru kepada Tuhan mereka dengan ketakutan dan harapan, dan mereka membelanjakan dari apa yang telah Kami rizkikan kepada mereka. ( As Sajadah : 17)
Jadi Allah swt menjauhkan rasa takut dari dalam kalbu para wali-Nya kerana semata-mata mereka hanya takut kepada Tuhan. Mereka tidak merasa takut sedikitpun dari perkara-perkara duniawi yang dianggap menakutkan. Dan bukan hanya setakat itu, merekapun tidak takut dari segala sesuatu yang kiranya akan terjadi dimasa depan, sebab tujuan mereka bukan mencari kesenangan dunia melainkan untuk meraih kesenangan dan keridhaan Allah swt semata. Bahkan hati mereka merasa lebih tenteram dan mereka tidak merasa sedih atau duka cita terhadap perkara yang sudah terjadi dimasa lampau. Apabila Allah swt telah mema’afkan kesalahan-kesalahan mereka dan menjauhkan kelemahan-kelemahan mereka lalu Dia jadikan mereka para wali-Nya (sahabat-sahabat-Nya), Dia melindungi mereka dari akibat buruk kesalahan-kesalahan mereka juga. Demikianlah apabila Allah swt telah dijadikan sahabat oleh mereka maka dimana Dia memberi jaminan untuk menurunkan karunia-Nya, disana Dia juga memberi jaminan untuk menghapuskan dosa-dosa mereka yang mereka lakukan dimasa lampau.Tidak ada kekuatan dunia yang bisa memberi jaminan seperti itu. Jadi betapa indahnya kekuasaan Tuhan kita Yang memiliki semua kekuatan, sehingga manusia terlepas dari berbagai jenis kesedihan dan rasa takut berkat adanya ikatan yang erat dengan Allah swt. Namun sangat disayangkan sebagian besar penduduk dunia telah meninggalkan Allah swt lalu mengambil perlindungan kepada makhluk lain. Bukan hanya meninggalkan keyakinan terhadap Allah swt dan pergi kepada makhluk lain selain Allah bahkan mereka tunduk kepada para pemberontak melawan Allah swt, mereka sama-sekali tidak mempunyai perhatian terhadap Allah swt. Bahkan mereka tidak bersedia menggunakan waktu untuk memikirkan tentang Tuhan. Sebagai natijahnya sekarang manusia dengan cepat tengah menuju kearah nyala api yang berkobar-kobar. Sungguh sangat menakutkan ! Diperlukan banyak-banyak berdo’a dan banyak-banyak membaca istighfar. Sambil menjelaskan ayat : .
لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan berduka cita. Hzrat Masih Mau’ud a.s. bersabda :” Allah swt menyebut mereka wali-Nya (sahabat-Nya), padahal Tuhan adalah Ghani, tidak memerlukan sahabat atau teman dan tidak pula memerlukan sebarang bantuan dari siapapun. Oleh sebab itu Dia mempunyai keistimewaan tersendiri dengan syarat و لَمْ يَكٌ لَّهُ وَلِيٌ مِنَ الذُّلِّ Sungguh benar Allah swt membuat seseorang menjadi teman bukan karena Dia memerlukannya, tetapi disebabkan karunia dan kasih sayang-Nya Allah swt menganugerahkan kepada mereka kedekatan dengan-Nya seperti dekatnya terhadap teman. Dia tidak memerlukan seseorang sebagai teman. Faedah persahabatan dan kedekatan Tuhan dengan hamba-Nya terletak pada orang yang dijadikan-Nya sahabat atau teman oleh Allah swt. Jadi manusialah yang memperoleh faedahnya dari persahabatan Tuhan dengan manusia itu. Ingatlah apabila Allah swt memilih seseorang sebagai sahabat-Nya, artinya Allah swt mengetahui keadaan ruhani hamba-Nya itu. Dan apabila Allah swt telah memilih seseorang dan memberi kelebihan dan kemuliaan kepada-nya, maka sesungguhnya Allah swt telah melihat dan menyaksikan betul-betul keadaan ruhaninya yang terus maju mendekat kepada-Nya. Mungkin saja sebelum itu hamba-Nya seorang pelaku banyak dosa. Ia telah melakukan dosa besar atau kecil pada permulaan kehidupannya. Akan tetapi apabila ia telah menjalin hubungan sejati dengan Allah swt, maka Allah swt mema’afkan semua kesalahan dan dosa-dosanya itu. Seorang penjahat yang telah banyak melakukan dosa, baik dosa kecil maupun dosa-dosa besar, tetapi apabila ia telah menjalin hubungan yang tulus dan erat dengan Allah swt, maka Allah swt mema’afkan dosa-dosa yang telah ia lakukan sebelumya itu. Dan Tuhan tidak akan pernah membuat-nya malu baik didunia ini juga maupun diakhirat nanti. Hal ini menunjukkan betapa besarnya kebaikan Allah swt terhadap hamba-Nya, apabila ia telah mema’afkan seseorang dan berlaku kasih terhadapnya, maka Dia tidak akan pernah mengingat, bahkan melupakan semua dosa-dosa yang telah dilakukannya dimasa lampau dan Dia menutupi kelemahan-kelemahannya. Akan tetapi sekalipun kebaikan dan karunia Tuhan yang begitu besar jika manusia berlaku munafiq dalam amal perbuatannya maka akibatnya ia akan menghadapi nasib malang dan nasib yang menyedihkan.” Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi : “ Demi meraih karunia dan barkat-barkat Allah swt manusia harus berusaha untuk membersihkan kalbunya. Selama kalbu belum bersih tidak akan memperoleh sesuatu dari pada Tuhan. Hendaknya apabila Allah swt melihat kalbu manusia Dia tidak mendapatkan sedikitpun kemunafiqan disudut relung kalbunya itu. Apabila keadaannya sudah demikian maka ia akan menyaksikan tajaliyyat Ilahiyah atau penampakan keagungan Ilahi. Oleh sebab itu janganlah terlintas sedikitpun suatu kemunafikan didalam kalbu manusia supaya semua perkara menjadi suci bersih. Untuk itu diperlukan ketaatan dan kejujuran yang sejati. Hazrat Nabi Ibrahim a.s. telah menunjukkan kejujurannya dihadapan Tuhan atau seperti halnya Hazrat Rasulullah saw telah menunjukkannya juga. Apabila manusia telah mulai mengikuti contoh kehidupan seperti itu maka ia pasti menjadi seorang manusia yang sangat berberkat didalam kehidupannya didunia ini juga dan dia tidak akan mendapat suatu kehinaan apapun. Dan dia tidak akan menghadapi kehidupan yang sempit disebabkan oleh kurangnya rizki dari Allah swt. Bahkan kepadanya dibukakan pintu rahmat dan karunia yang lebar oleh Allah swt. Dan ia menjadi orang yang dikabulkan do’a-do’anya oleh Allah swt. Dan Allah swt tidak akan menimpakan kehidupan yang sempit yang menyebabkan ia binasa. Bahkan Tuhan akan menjadikan kehidupannya khatmah bil khair (memberi akhir kesudahan hidupnya yang sangat baik) Ringkasnya, orang yang menjalin hubungan yang sejati dan sempurna dengan Allah swt, maka Allah swt menyempurnakan semua maksud-maksud baik yang terkandung didalam kalbunya. Allah swt tidak menjadikannya gagal didalam kehidupannya.”
Ayat kedua yang telah saya bacakan itu : الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَ artinya Orang-orang yang beriman dan senantiasa bertaqwa, orang-orang ini juga adalah para wali Allah swt. Jadi, itulah sifat-sifat khas para wali Allah swt, yaitu mereka maju terus didalam keimanan mereka. Dan mereka menjadi contoh dalam menegakkan ketaqwaan terhadap Allah swt. Didalam sebuah hadis Rasulullah saw bersabda : “ Apabila qiamat telah berdiri maka Allah swt akan memanggil para wali-Nya itu. Mereka akan tampil dihadapan Allah swt. Mereka akan terbagi dalam tiga grup. Tiap-tiap grup akan mempunyai jati diri mereka masing-masing`. Ketika wakil dari grup pertama dipanggil, Allah swt akan bertanya kepadanya, wahai hamba-Ku !! Amalan apa yang telah engkau lakukan sehingga engkau mendapat kedudukan seperti ini ? Ia akan menjawab: “ Wahai Tuhan-ku !! Engkau telah menciptakan Jannat, lalu Engkau telah menumbuhkan dahan-dahannya lalu menumbuhkan buah-buahannya dan menciptakan sungai-sungai, bidadari-bidadri dan apapun nikmat-nikmat yang telah Engkau sediakan sebagai ganjaran bagi orang-orang yang patuh ta’at, untuk itulah saya melakukan kebaikan-kebaikan. Dan demi meraih hal itu semua setiap malam aku bangun untuk melakukan ibadah kepada Engkau. Dan pada waktu siang hari aku melakukan puasa. Maka pada waktu itu Allah swt akan berfirman : “ Wahai hamba-Ku !! Demi mendapatkan surga ini engkau telah giat melakukan amal-amal ibadah itu kepada-Ku, maka inilah Jannat bagi engkau, masuklah kamu sekalian kedalamnya !! Dan hal ini smata-mata karunia-Ku bahwa kalian telah diselamatkan dari api neraka. Dan ini juga karunia daripada-Ku bahwa kalian dimasukkan kedalam Jannat-Ku. Maka dia bersama rekan-rekanya semua masuk kedalam Jannat itu. Sesudah itu Allah swt memanggil seorang wakil dari grup yang lain. Allah swt akan bertanya, Wahai hamba-Ku !! Untuk maksud apa kau lakukan amal soleh ? Ia akan menjawa, Hai Tuhan-Ku !! Engkau telah menjadikan Neraka Jahannam, apinya yang membakar, menghembuskan angin panas, air mendidih dan apapun yang telah Engkau sediakan bagi orang-orang yang tidak patuh ta’at bahkan melawan perintah Engkau dan yang telah dipersiapkan bagi orang-orang yang memusuhi Utusan Engkau, maka kerana mearas takut kepada benda-benda itu semua aku selalu bangun tengah malam untuk menunaikan salat nafal dan diwaktu siang hari aku berpuasa. Atas jawaban itu Allah swt akan berfirman : “ Hai hamba-Ku !! Engkau lakukan itu semua kerana takut kepada api-Ku, maka sekarang Aku selamatkan engkau dari api ini. Dan dengan karunia-Ku engkau dimasukkan kedalam Jannat (surga). Maka ia bersama semua rekan-rekan-nya masuk kedalam Jannat. Setelah itu dihadirkan grup orang-orang yang ketiga. Allah swt akan bertanya kepada mereka. Hai hamba-hamba-Ku untuk maksud apa kalian beramal soleh ?? Mereka akan menjawab : “ Wahai Tuhan kami !! Kami berbuat amal soleh demi meraih kecintaan dan kasih sayang Engkau dan demi menyempurnakan keinginan keras kami untuk berjumpa dengan Engkau.” Demi Zat Engkau !! Setiap malam kami bangun beribadah kepada Engkau dan pada siang hari kami berpuasa semata-mata kerana semangat untuk berjumpa dengan Engkau dan kerana rasa cinta terhadap Engkau.” Maka Allah swt akan berfirman : “ Mubaraklah atas kalian semua !! Dan berfirman : “ Wahai hamba-hamba-Ku !! Apa yang kalian lakukan itu kerana semangat untuk berjumpa dengan-Ku dan kerana dorongan semangat cinta terhadap-Ku, maka sekarang ambillah ganjarannya dari pada-Ku. Kemudian Allah swt menunjukkan penampakan-Nya yang khas kepada mereka. Dan semua tabir penghalang dijauhkan dari muka mereka dan Tuhan hadir dihadapan mereka. Dan akan berfirman kepada mereka : “ Wahai hamba-hamba-Ku sekarang Aku hadir dihadapan kalian pandanglah pada-Ku dan ambillah apa yang kalian inginkan dari-Ku. Kemudian Tuhan akan berfirman : “ Dengan karunia-Ku sekarang Aku selamatkan kalian dari pada api dan Aku izinkan kalian masuk kedalam surga-Ku dan akan Aku hadirkan Malaikat-malaikat kepada kalian dan Aku sendiri akan menyampaikan salam sejahtera kepada kalian semua. Maka dia bersama semua rekan-rekannya masuk kedalam Surga itu.”
Semua orang dari ketiga grup itu sesuai dengan amal soleh mereka dimasukkan kedalam golongan para wali Allah swt. Hadis ini dikuitp oleh Hazrat Muslih Mau’ud r.a. dari Tafsir Ibnu Katsir dan dicantumkan didalam Tafsir Saghir. Didalam hadis itu telah dijelaskan beberapa jenis martabah para wali Allah swt. Satu jenis wali yang menghendaki Jannat (surga) dan mereka telah beramal saleh untuk menghasilkan Jannat itu. Jenis martabah yang kedua yang takut terhadap Jahannam dan yang beramal soleh agar terhindar dari Jahannam itu. Dan jenis martabah wali yang ketiga adalah yang beramal karena mereka fana fillah, terbenam dalam kecintaan terhadap Allah swt. Dan ketiga jenis martabah wali itu ketika telah mendapat izin dari Allah swt untuk masuk kedalam Jannat-Nya, Allah swt berfirman : “ Kalian masuk kedalam surga-Ku ini bukan kerana amal perbuatan saleh kalian, melainkan kerana karunia dan kasih sayang-Ku kalian diberi ganjaran ini. Dan dari setiap grup itu seorang tampil kemuka sebagai wakil dan setelah meraih rahmat dan karunia Allah swt masuk kedalam Jannat bersama rekannya masing-masing. Grup terakhir yang terbenam dalam kecintaan terhadap Allah swt, penghulu mereka tidak syak lagi adalah Hazrat Rasulullah saw. Diwaktu menjelang akhir hayat beliau perkataan yang terucap dibibir beliau tiada lain adalah : رَفِيْقِيْ الاَعْلَى!! رَفِيْقِيْ الاَعْلَى!!. Semua perkataan yang keluar dari bibir beliau pada detik-detik mau meninggal adalah bukti nyata bahwa beliau sangat mencintai Allah swt. Dan martabah atau kedudukan yang paling tinggi sekali telah diraih oleh Hazrat Rasulullah saw.
Jadi para wali Allah swt juga mempunyai beberapa jenis martabah. Akan tetapi yang menjadi asas bagi para wali adalah iman dan taqwa yang terus meningkat. Dan para Nabi adalah wali-wali Allah swt yang mempunyai iman sangat sempurna dan selalu menunjukkan tauladan taqwa yang sangat tinggi. Dan contoh tauladan yang paling tinggi adalah zat Rasulullah saw. Banyak sekali hadis yang menjelaskan tentang kedudukan para Wali Allah swt. Siapa yang berhak atau patut menjadi wali Allah swt dan bagaimana caranya kedudukan wali itu dapat diperoleh.
Hazrat Amar Bin Aljamhur r.a. meriwayatkan katanya Hazrat Rasulullah saw bersabda : Seorang tidak bisa menjadi orang yang murni imannya, selama ia tidak mencintai seseorang kerana Allah swt dan membenci seseorang kerana Allah swt. Selama ia mencintai orang lain kerana Allah swt dan kerana Allah swt pula ia membenci seseorang, maka ia memperoleh hak untuk menjalin persahabatan dengan Allah swt. Tuhan berfirman : “ Dari antara hamba-hamba-Ku dan dari antara para wali-Ku yang paling Aku cintai adalah dia yang selalu ingat kepada-Ku dan Akupun selalu ingat kepada-nya.” Jadi, didalam hadis ini telah diberitahukan kedudukan iman yang murni para wali itu, dan setiap amal perbuatan mereka, sehingga kecintaan dan kebencian mereka terhadap yang lain semata-mata demi keridhaan Allah swt. Sedikitpun tidak ada kecintaan dan kebencian terhadap seseorang untuk kepentingan pribadi mereka sendiri. Jika manusia memeriksa dirinya sendiri maka akan timbul perasaan ngeri dan gemetar, dia sudah mendakwakan diri sebagai orang yang berusaha meraih keridaan Allah swt namun didalam hatinya timbul pikiran-pikiran buruk berupa kebencian dan permusuhan pribadi. Dadanya penuh dengan kebencian dan dengan rasa dendam pribadi, dengan melihat orang yang dibenci itu tidak timbul keinginan untuk mema’afkannya atau meminta ma’af dari padanya. Namun apabila ia telah berobah dan mendapat kedudukan dari Allah swt dan semua gerak-geriknya dimaksudkan demi meraih keridhaan Allah swt, maka ia menjadi sahabat Allah swt.
Terdapat sebuah hadis lagi yang diriwayatkan oleh Hazrat Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah saw bersabda bahwa bagi kalian Allah swt menyukai tiga perkara dan tidak menyukai tiga perkara. Yang Dia sukai diantaranya ialah kamu beribadah-lah kepada-Nya dan janganlah menyekutukan Tuhan dengan apapun juga. Dan apa yang telah Allah swt jadikan kalian untuk menjaga sesuatu maka peliharalah dia sebaik-baiknya. Dan peganglah erat-erat tali ikatan dengan Allah swt dan janganlah berbuat perpecahan dan janganlah berkata-kata yang sia-sia dan jangan pula mengajukan banyak-banyak pertanyaan tentang sesuatu dan jangan mensia-siakan harta. Allah swt tidak menyukai berbicara yang sia-sia dan membazirkan harta yang telah Dia anugerahkan kepada kamu. Sediakanlah banyak peluang untuk beribadah kepada Allah swt diantaranya ibadah yang fardu dan juga ibadah nawafil. Dan siapapun yang tidak memberi perhatian terhadap ibadah tidak memberi perhatian kepada amal kebaikan, maka orang demikian tidak akan bisa menjadi wali Allah swt bahkan menjadi seorang mukmin-pun tidak bisa yang merupakan langkah pertama kearah iman. Perkara ketiga yang dijelaskan oleh Allah swt adalah, sebagaimana untuk mengawasi perkara kalian telah ditetapkan penjaganya, maka hendaknya kalian menaruh rasa simpati terhadap penjaga itu. Dan siapakah yang dijadikan penjaga itu ? Yaitu setiap petugas Jemat yang telah ditetapkan untuk menjalankan tugasnya sesuai dengan kewajibannya. Dia adalah penjaga atau pengawas setiap orang mukmin sejati. Maka bekerja sama secara sempurna dengannya dan berlaku simpati kepadanya adalah kewajiban seorang mukmin yang sejati, yaitu orang yang menghendaki kepercayaan dari Tuhan dan ingin menjadi wali atau sahabat-Nya. Dia betul-betul ingin menjadi teman atau sahabat Tuhan. Dimana perkara ini diingatkan kepada orang-orang mukmin dan diingatkan supaya menjaga diri dari setiap jenis kerusuhan, disana harus menjadi bahan pemikiran bagi para petugas. Merupakan hal yang sangat menakutkan, yaitu orang-orang yang kerana Allah swt menaruh simpati terhadap kalian, maka demi meraih keridhaan Allah swt kalian harus memenuhi tuntutan keadilan sambil menaruh rasa takut kepada Tuhan didalam hati kalian, dan sambil menegakkan keadilan kalian harus memenuhi kewajiban penjagaan dan pengawasan terhadap mereka dengan cara yang sebaik-baiknya. Jika sikap simpati sudah diamalkan dengan penuh perhatian dan tingkat keadilan sudah jauh lebih tinggi, niat didalam hati sudah bersih serta usaha untuk meraih keridhaan Tuhan sudah menjadi tujuan para petugas, maka anak-anak buah kalian dengan rasa takut terhadap Tuhan tentu akan menaruh rasa simpati terhadap kalian. Mereka akan menjauhi prasangka buruk terhadap kalian sehingga akan timbul suasana kecintaan yang hangat terhadap kalian.” Beliau a.s. bersabda : “ Peganglah tali Tuhan erat-erat, jangan terlibat didalam perpecahan dan pertelingkahan. Disini orang-orang mukmin secara umum telah diperingatkan.” Kemudian perkara-perkara yang bertentangan dengan keinginan pribadi yang timbul dari pihak pemimpin, maka hendaknya janganlah timbul reaksi dari pihak kalian yang bisa menjadi penyebab fitnah. Dan terhadap para anggauta Majlis Amilah juga ada petunjuk bahwa reaksi dari kalian juga harus menunjukkan adanya rasa takut terhadap Tuhan. Memegang tali Allah swt yang berasas kepada taqwa jangan sampai menjadi lemah disebabkan amal perbuatan kalian yang tidak baik. Jauhkan diri dari perbualan yang sia-sia dan nonsense, atau melakukan kritikan-kritikan terhadap orang lain, sebab hal itu semua tidak disenangi oleh Allah swt. Selain itu Allah swt melarang dari banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mensia-siakan harta. Orang mukmin harus mempunyai sifat rasa puas atas apa yang telah Tuhan karuniakan kepadanya. Dan harus banyak menaruh perhatian untuk banyak mengurbankan harta dijalan Allah swt.
Didalam sebuah hadis terdapat riwayat bahwa Allah swt telah melukiskan kedudukan seorang manusia yang sangat menakjubkan. Hazrat Umar r.a. mengatakan bahwa nabi Muhammad saw bersabda : “ Dari antara hamba-hamba Allah swt banyak yang kedudukannya bukan sebagai Nabi dan tidak pula Syahid, namun Nabi-nabi dan para Syuhada pada Hari Qiamat disebabkan martabat mereka sangat tinggi, akan menimbulkan rasa iri-hati. Para sahabah bertanya : “ Ya Rasulalllah siapakah orang-orang itu ?? Mereka itu adalah orang-orang yang saling cinta mencintai satu sama lain berkat rahmat dan karunia Allah swt, bukan disebabkan adanya hubungan keluarga atau hubungan dengan yang lainnya dan bukan juga disebabkan harta yang dihadiahkan dari seorang kepada yang lain. Demi Allah !! Wajah mereka sarat dengan cahaya yang bersinar. Dan nur itu tetap bersinar diwajah mereka, dan apabila orang-orang merasa takut dari sesuatu mereka tidak merasa takut sedikit-pun dari padanya. Dan apabila orang-orang merasa sedih atau duka cita karena sesuatu, mereka tidak akan merasa sedih atau duka cita dari hal itu semua. Kemudian beliau membaca ayat ini : ؕ‏ اَلاَ اِنَّ اَوْلِيَآءَ اللّٰهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَۖ Artinya : Ingatlah ! Sesungguhnya sahabat-sahabat Allah itu tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan berduka cita.
Jadi, itulah orang-orang yang menjadi para wali Allah swt. Keadaan mereka dalam posisi berdiri, duduk atau berbaring menggambarkan keridhaan Allah swt. Dan apabila semua kebaikan yang mereka lakukan demi meraih keridhaan Allah swt maka pasti para Nabi akan merasa iri terhadap mereka. Allah swt menganugerahkan posisi demikian terhadap orang-orang diantara para pengikut atau diantara orang-orang beriman yang memperoleh kedudukan tinggi didalam kebaikan mereka. Maksud dan tujuan para Nabi dibangkitkan adalah untuk menimbulkan perobahan besar dibidang keruhanian. Maka apabila timbul perobahan besar dikalangan para pengikut beliau, maka pastilah kedudukan itu membuat hati para Nabi itu senang dan gembira. Jika tidak para Nabi sendiri dengan memperoleh martabat kebaikan yang tinggi sudah menikmati kedudukan sebagai wali Allah yang derajatnya luhur dan sangat dekat dengan Allah swt. Karena kebaikan itu mereka tidak akan merasa iri hati, bahkan mereka akan merasa gembira dan senang bahwa para pengikut mereka berusaha mengikuti langkah-langkah mereka.
Dari hadis yang telah saya bacakan telah jelas sekali bahwa kedudukan para wali yang sangat tinggi itu telah diraih oleh para Nabi. Sedangkan kedudukan yang paling tinggi sekali dari semua telah diraih oleh Hazrat Rasulullah saw. Maka pada zaman ini setelah kebangkitan Hazrat Rasulullah saw yang menjadi wali Allah swt tiada lain adalah orang-orang yang bergabung kedalam ummat beliau dan melakukan setiap amal kebaikan demi meraih keridhaan Allah swt. Dan itulah mereka yang mampu meraih qurub Allah swt. Dan Allah swt menjauhkan rasa takut dan duka-cita dari kalbu mereka. Mereka selalu mencari jalan untuk meraih keridhaan Allah swt. Maka mereka tentu sangat memperhatikan perintah Allah swt dan Rasul-Nya saw, sebab hal itu tugas kewajiban setiap orang mukmin. Dan beriman kepada Imam Zaman, Hazrat Masih Mau’ud a.s. juga adalah sebuah perintah dari Allah swt dan perintah Rasul-Nya Muhammad saw.
Sebagaimana telah dijelaskan oleh sebuah hadis bahwa, janganlah membuat perpecahan dikalangan ummat dan peganglah tali Allah sekuat-kuatnya, hal ini semua menandakan bahwa seseorang akan datang untuk menghapuskan perpecahan diantara golongan-golongan ummat Islam. Dan hal itu tidak akan bisa dilakukan kecuali oleh orang yang telah diutus atau dilantik oleh Allah swt. Yaitu orang yang telah meraih kedudukan wali yang tinggi.
Jadi, dizaman ini orang-orang yang berhimpun kerana Allah swt, menjadi sebuah Jema’at yang saling cintai-mencintai satu dengan yang lain dan yang bersatu padu dibawah satu tangan, yang hidup dengan rasa aman dari setiap ketakutan, hanyalah Jema’at Hazrat Masih Mau’d a.s. yaitu Jema’at Ahmadiyah yang memiliki kelebihan seperti itu dari yang lain.
Jadi, dimana hal ini menjadi bahan pemikiran bagi orang-orang Muslim diluar Jema’at, bagi orang-orang Ahmadi juga patut mendapat perhatian dengan seksama, yakni jika hendak meraih keridhaan Allah swt, maka sangat penting sekali untuk menciptakan kecintaan, kasih sayang satu sama lain, menghormati Nizam Jema’at dan itha’at serta menjalin hubungan yang erat dengan Khilafat.
Didalam ayat berikutnya Allah swt berfirman :
لَهُمُ الْبُشْرٰى فِىْ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِىْ الاَخِرَةِ‌
Bagi mereka ada khabar suka dalam kehidupan didunia dan juga di akhirat- Yakni bukan hanya nimat-nikmat yang diperoleh didunia ini saja bahkan nikmat-nikmat akhirat juga disediakan bagi mereka. Sesungguhnya meraih nikkmat-nikmat ini maksudnya adalah meraih maksud serta tujuan penciptaan mereka kedunia. Hal ini merupakan khabar suka yang sangat besar. Dan bagaimanakah khabar-khabar suka itu terus diterima dan apa maksudnya ? Tentang ini terdapat beberapa buah hadis sebagai penjelasannya. Didalam sebuah hadis Hazrat Rasulullah saw bersabda : “
لَهُمُ الْبُشْرٰى فِىْ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِىْ الاَخِرَةِ‌ Yang dimaksud dengan busyra disini adalah Ru’ya Salihah yakni ru’ya yang benar dan jelas, sehingga seorang mukmin bisa melihat keadaan peribadinya sendiri. Atau orang lain melihat didalam ru’ya tentang keadaan diri orang itu.” Atau didalam riwayat lain dikatakan bahwa maksud Busyra itu adalah Jannat (surga) yang akan disaksikan diakhirat nanti. Apa yang dimaksud dengan busyra didunia ini ?? Maka beliau saw bersabda : “ Ru’ya salihah yang diperlihatkan kepadanya dan tentang dia itu diperlihatkan juga ru’ya kepada orang lain” Didalam ru’ya salihah ini diberitahukan khabar suka tentang nikmat-nikmat yang akan dianugerahkan kepadanya. Jadi, ru’ya ini diperlihatkan oleh Allah swt bukan tidak ada maksudnya. Kadang-kadang melalui ru’ya itu rasa takut yang mencekam diganti dengan perasaan aman sentausa. Dan Allah swt memenuhi janji-Nya bahwa kehidupan orang mukmin yang tengah berada dalam ketakutan diganti dengan rasa aman dan sentausa. Kadang-kadang tentang turunnya nikmat-nikmat kepada hamba-Nya, orang-orang mukmin-pun biasa menyaksikan keadaan serupa itu didalam kehidupan mereka atau didalam kehidupan Jema’at, bagaimana Allah swt menurunkan nikmat-nikmat-Nya itu laksana hujan turun. Tentang nikmat-nikmat itu sebelumnya juga Allah swt telah memberitahukannya. Jadi itu juga nikmat-nikmat dari Allah swt yang diberitahukan sebelumnya didalam ru’ya atau mimpi-mimpi mereka. Selain itu banyak lagi khabar-kahabar suka melalui mimpi-mimpi sehingga jelaslah bahwa Allah swt dengan karunia-Nya selalu menurunkan anugerah-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dan dukungan-Nya selalu bersama orang-orang mukmin.
Jadi, apabila amal-amal saleh orang-orang mukmin suatu Jema’at dilakukan kerana Allah swt, apabila mereka tergabung didalam sebuah Jema’at dan mereka berusaha menjadi sahabat-sahabat Allah swt, maka berkat hubungan baik antar sesama mereka demi meraih keridhaan Allah swt, mereka akan menerima khabar-khabar suka dari pada Tuhan. Pada sa’at ini kecintaan yang bersemi demi kuatnya Jema’at dan Khilafat dan demi meraih keridhaan Allah swt nampak melalui hubungan seperti ini. Dan demi memperkuat iman terhadap Allah swt ru’ya salihah diperlihatkan oleh Tuhan kepada orang-orang mukmin. Maka selama hubungan yang erat ini tetap berkembang dan tetap berdiri maka mereka akan mendapat bagian dari khabar-khabar suka dari Allah swt. Dan khabar-khabar suka itu akan selalu diberitahukan tentang kejayaan yang agung yang disediakan oleh Allah swt bagi orang-orang mukmin, supaya keadaan imannya selalu meningkat terus.
Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Orang yang beriman akan selalu menerima khabar-khabar suka dari Allah swt tentang kehidupannya yang akan diperoleh didunia ini dan juga mengenai kehidupannya yang akan diperoleh diakhirat nanti. Dengan perantaraannya didunia dan diakhirat nanti ia akan memperoleh kejayaan tentang ma’rifat Ilahi yang tidak ada batasnya. Ia akan terus memperoleh kemajuan. Ini adalah firman Allah swt yang sangat meyakinkan yang tidak akan pernah gagal. Dan memperoleh tanda-tanda khabar suka dari Allah swt adalah suatu karunia dari Allah swt, yang bisa menyampaikan-nya kepada martabat kecintaan dan ma’rifat yang sangat tinggi.
Semoga Allah swt memberi taufiq kepada kita semua untuk memahami perkara ini sehingga bisa membawa kedudukan iman dan taqwa kita terhadap Allah swt yang lebih tinggi. Semoga kita menjadi orang-orang yang berjaya untuk meraih surga keridhaan-Nya. Semoga Allah swt selalu mengganti rasa takut kita dengan rasa aman sentausa dan semoga Dia menyelimuti kesalahan-kesalahan kita semua dan mema’afkan semua dosa kita dan menjauhkan kita semua dari rasa duka cita. Amin !!
Alihbahasa dari Audio Urdu oleh Hasan Basri
Tgl 17-11-2009




Read More......

Minggu, 22 November 2009

VARIASI MISSI HADZRAT IMAM MAHDI a.s.

Khutbah Huzur V
Tanggal 08 Pebruari 2008 dari Baitul Futuh London U.K.
VARIASI MISSI HADZRAT IMAM MAHDI a.s.

Hadzrat Masih Mau'ud a.s. bersabda : Kesan-kesan istimewa dari pada doa'-do'a yang dipanjatkan diwaktu percobaan-percobaan tengah berlangsung timbul sangat mengherankan sekali. Sungguh benar bahwa Tuhan kita dapat dikenal melalui do'a-do'a. Ini perkara asas yang sangat dalam sekali untuk dipahami oleh setiap orang mu'min yang sejati. Tanpa memiliki kebiasaan memanjatkan do'a atau kebiasaan merundukkan kepala untuk berdo'a dihadapan Allah swt pengakuan diri sebagai orang beriman sungguh tidak ada artinya.

Apa yang Hadzrat Masih Mau'ud a.s telah bersabda bahwa Tuhan kita dapat dikenal dengan perantaraan do'a, itulah sekarang yang harus menjadi keistimewaan setiap orang Ahmadi, memang harus demikian, tidak hanya diwaktu datangnya percobaan-percobaan, bahkan dihari-hari keadaan sedang aman-damai dan tenang-tenterampun senantiasa harus banyak memenjatkan do'a sambil merundukkan kepala dihadapan Allah swt dan sambil menganggap bahwa Dia-lah sumber segala kekuatan, sambil memiliki rasa takut yang sebenar kepada-Nya didalam hati, maka mereka inilah orang-orang mu'min sejati. Dan apabila masa percobaan telah tiba maka iman mereka itu semakin bertambah kokoh dari sebelumnya bahkan semakin melompat setinggi-tingginya.
Read More......

Sabtu, 14 November 2009

Khutbah Huzur: Tentang Rofa'a

KHUTBAH JUM’AH
HAZRAT AMIRUL MU’MININ KHALIFATUL MASIH V atba.
Tanggal 10 JULI 2009 dari Baitul Futuh London, U.K.

TENTANG : ROFA'A

Di dalam khutbah jum’at yang lalu saya telah menjelaskan arti perkataan Rafa’a di dalam Kitab Suci Alqur’an yang bertalian dengan Hazrat Isa a.s. Dan Tafsir Hazrat Masih Mau’ud a.s. telah menjelaskan arti hakiki tentang ayat roofi'uka ilayya dan rofa'ahullahu ilaihi sehubungan dengan Hazrat Isa a.s. itu demi menegakkan kekudusan Allah swt. Dan selanjutnya saya ingin menjelaskan apakah perkataan itu di dalam Alqur’an digunakan untuk para Nabi lainnya juga selain untuk Nabi Isa a.s. ataukah ada perkataan yang serupa dengan itu di dalam Alqur’an digunakan bagi Nabi-Nabi yang lain yang mungkin bisa disalah artikan bahwa Tuhan telah mengangkat dengan tubuh kasar kelangit?



Sehubungan dengan itu di dalam Al-Qur’an Surah Maryam ayat 57 dan 58 ada firman Tuhan tentang Nabi Idris a.s. sebagai berikut:

Artinya : Dan ceriterakanlah kisah Idris seperti tercantum di dalam Kitab Alqur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar dan seorang Nabi. Dan Kami telah mengangkat-nya ke martabat yang tinggi



Sekarang tengoklah di dalam ayat ini Hazrat Idris a.s. telah diberi kedudukan atau martabah yang lebih tinggi dari pada martabah Nabi Isa a.s. Tentang Nabi Isa a.s. telah difirmankan: bal rofa'ahu ilaihi Allah swt hanya mengangkat-nya (Nabi Isa a.s. itu) kepada-Nya. Sedangkan tentang Nabi Idris a.s. difirmankan : wa rofa'naahu makaanan aliyyan dan Kami telah mengangkat-nya ke martabat yang tinggi.



Jadi orang-orang Islam umum harus memberi perhatian khas kepada firman Tuhan di dalam Kitab Suci Al-Qur’an ini. Pada zaman ini seorang Utusan yang terpilih atas dasar petunjuk dari pada Tuhan telah memberi penjelasan secara gamblang pengertian tentang rafa’a atau diangkatnya seseorang, bahkan semua para Anbiya diangkat oleh Allah swt bukan bersama tubuh kasar mereka kelangit melainkan diangkat martabah kerohanian atau spiritual mereka yang tinggi. Demikianlah juga tentang Nabi Isa a.s. dengan menggunakan perkataan rofaahullahu ilaihi artinya Allah swt telah mengangkat martabah ruhani beliau bukan mengangkat tubuh kasar beliau kepada-Nya. Potongan dua ayat tersebut di atas tentang Nabi Isa a.s. secara khas dimaksudkan untuk menyelamatkan Hazrat Isa a.s. dari tuduhan Kaum Yahudi bahwa barangsiapa yang mati di atas palang kayu salib adalah mati terkutuk atau mati dilaknat, na’uzubillahi min zalik! Jadi untuk menyelamatkan Nabi Isa a.s. dari tuduhan yang keji itu Alqur’an berfirman bahwa beliau a.s. tidak mati di atas palang kayu salib melainkan Allah swt telah memberi kematian kepada beliau secara wajar dan mengangkat martabat-nya kepada-Nya.



Disebabkan orang-orang Kristian tidak mempunyai dalil atau bukti tentang itu maka orang-orang Kristian sendiri membuat alasan-alasan diraba-raba secara kacau dan mencampur-adukkan dengan perkiraan akal pikiran mereka sendiri sambil menggunakan kata-kata yang betul-betul meragukan sehingga akalpun tidak bersedia untuk menerimanya. Dan mereka memaksakan diri menerima kematian Nabi Isa a.s. di atas palang kayu salib sebagai dogma dengan alasan untuk menebus dosa manusia. Selanjutnya mereka membuat rekayasa dengan mengatakan bahwa Nabi Isa a.s. telah diangkat dengan tubuh kasarnya keatas langit dan disana duduk disebelah kanan Allah swt berbagi kekuasaan dengan Allah Bapak. Dan beliau akan turun kembali diakhir zaman untuk menegakkan pengadilan dimuka bumi. Dan barangsiapa yang tidak beriman dan yakin terhadap tuhan tiga atau trinitas dia akan ditangkap dan diadili. Demikianlah pendirian dan akidah orang-orang Kristian pada zaman sekarang. Mereka meyakini bahwa Nabi Isa a.s. tengah duduk di atas langit melaksanakan tugas ketuhanan bersama tuhan bapak.



Akan tetapi sebagaimana telah saya katakan bahwa dikalangan orang-orang Islam juga telah terdapat kekeliruan dengan mempercayai kenaikan Nabi Isa a.s. keatas langit dan diakhir zaman beliau akan turun kembali kedunia dan bersama Mahdi penumpah darah akan memaksa umat manusia untuk percaya kemudian masuk Islam. Sehubungan dengan itu pada khutbah jum’at yang lalu telah saya singgung mengenai pendirian Kepala Negara Iran yang telah membuat pernyataan seperti itu yang telah dimuat di dalam Surat Khabar Bahasa Urdu dan terjemahannya menimbulkan kesan yang salah seolah-olah dia mengatakan bahwa Nabi Isa a.s. selama beliau hidup tidak memberikan ajaran seperti itu namun di dalam Surat Khabar Bahasa Inggeris terdapat terjemahan yang benar bahwa apabila beliau a.s. akan datang kedunia akan berkerja sama menjalankan da’wahnya bersama Imam Mahdi, sesuai betul dengan akidah umat Islam umum pada zaman sekarang. Dan secara mayoritas umat Islam dizaman sekarang mempunyai pandangan dan pengertian seperti itu. Bahwa Nabi Isa a.s. akan datang diakhir zaman dan akan bekerja sama dengan Mahdi Sang Penumpah darah untuk memaksa dunia masuk Islam. Dan barangsiapa yang tidak bersedia masuk Islam akan dibunuh.



Kita orang-orang Ahmadi sangat bernasib baik dan beruntung bahwa dengan beriman kepada Hazrat Imam Zaman dan Al Masih yang dijanjikan, telah selamat dari pengertian dan pemahaman revolusi berdarah yang sangat menakutkan itu. Sehubungan dengan itu saya ingin menyampaikan kutipan-kutipan dari sabda Hazrat Imam Zaman, Masih Mau’ud a.s. Namun sebelumnya saya ingin menjelaskan tentang kenaikan Nabi Idris a.s. dan Nabi Isa a.s. kelangit yang telah disebutkan di dalam Byble.



Di dalam Bible kitab Kejadian bab 5 ayat 24 dikatakan bahwa : Idris berjalan bersama Tuhan kemudian ia pergi kealam ghaib, sebab Tuhan telah mengangkat-nya. Demikianlah perkataan yang terdapat di dalam Byble. Di dalam Bible bahasa Inggeris juga terdapat perkataan yang serupa dengan itu. Maka jika di dalam Byble disebutkan tentang Nabi Isa a.s. yang tersebut di dalam Lukas bab 24 ayat 51 maka tentang Nabi Idris juga yang tersebut di dalam Bible yang disebut Hunuk dikatakan bahwa beliau telah diangkat keatas langit. Jika diangkatnya keatas langit diartikan kedudukannya seperti Tuhan maka pengertian tentang Nabi Idris a.s. juga akan sesuai dengan itu bahwa beliau juga diangkat kelangit beserta jasad beliau.



Jika kedudukan Nabi Idris a.s. diangkat kelangit dengan jasad beliau tidak dapat dibuktikan maka pengertian Nabi Isa a.s. telah diangkat kelangit dengan jasad beliau juga tidak bisa dibuktikan. Sejauh mana yang difirmankan oleh Alqur’an ayat yang telah saya bacakan tentang Nabi Idris a.s. dan sehubungan dengan Nabi Isa a.s. lebih jelas digaris bawahi tentang kenaikan beliau keatas langit. Jadi di dalam Bible dan Al-Qur’an kedua-duanya menjelaskan bahwa selain kenaikan Nabi Isa a.s. kenaikan Nabi-Nabi lainnya juga telah disebutkan dengan jelas. Dan kedua Kitab itu telah menjelaskan bahwa kedudukan pribadi Nabi Isa a.s. sangat tinggi. Orang-orang Kristen sendiri tidak mempercayai ajaran-ajaran beliau yang sebenarnya dan mereka telah membuat perubahan-perubahan di dalamnya yang tidak bisa diterima oleh akal.



Orang-orang Islam harus mengambil petunjuk dari ayat-ayat Al-Qur’an tersebut di atas. Sebab Allah swt telah berjanji dan perjanjian ini terus berlanjut sampai Qiamat bahwa ajaran Al-Qur’an sedikitpun tidak akan pernah mengalami sembarang perubahan. Allah sendiri menyediakan sarana-sarananya untuk menjaga keutuhan Kitab Suci-Nya Al-Qur’an.



Sekarang, sebagaimana telah saya katakan bahwa untuk memberikan bimbingan dan pengawasan terhadap umat Allah swt telah mengutus seorang pilihannya untuk zaman ini yaitu Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. Namun mula-mula tidak ada yang menyambut pendapat beliau bahkan dituduh bahwa beliau telah melakukan Tafsir yang salah dan menyesatkan.



Di sini saya sambil lalu ingin memberi tahu bahwa di dalam Literature orang-orang Yahudi baik tentang Nabi Isa maupun tentang Nabi Iadris a.s. yang disbebut Nabi Hanuk terdapat keterangan-keterangan yang sangat jelas, bahwa Allah swt telah mengutus beliau-beliau itu kedunia untuk melakukan perbaikan-perbaikan terhadap manusia. Akan tetapi tatkala dunia sudah penuh dengan perbuatan maksiat dan dosa-dosa, maka Allah swt mengangkat mereka keatas langit. Bagaimanapun hal itu adalah pendapat orang-orang Yahudi. Sejauh mana pendirian kita orang-orang Ahmadi sesuai dengan firman Allah swt di dalam Kitab Suci Alqur’an bahwa beliau-beliau adalah Nabi-Nabi yang benar datang dari Allah swt. Allah swt memberi kedudukan dan martabat yang tinggi. Dan kepada setiap Nabi yang diutus kedunia ini Allah swt memberi kedudukan dan martabat yang tinggi didunia ini juga dan kedudukan serta martabat itu melukiskan ketinggian martabat ruhani beliau itu, supaya beliau mampu mengadakan perbaikan terhadap dunia. Kepada bangsa mana beliau itu diutus disana beliau mampu mengadakan perbaikan dan perobahan ruhani manusia. Dihari akhirat juga para Anbiya akan menerima kedudukan dan martabah yang kamil dan tinggi.



Berkenaan dengan itu Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “Allah swt berfirman : wa rofa'naahu makaanan 'aliyyan Allah swt telah mengangkat beliau kepada martabah ruhani yang tinggi (Surah Maryam ayat 58) Tafsir ayat ini adalah bahwa orang yang diangkat kepada Allah swt itu maksudnya setelah meninggal dunia dan untuk-nya disediakan banyak sekali martabah atau kedudukan yang baik dan tinggi. Jadi, Allah swt berfirman bahwa mengangkat Nabi itu kepada-Nya maksudnya setelah mematikannya kemudian diberi kedudukan yang tinggi dan mulia disisi-Nya.”



Nawab Siddiq Ahmad Khan di dalam tafsirnya Fathul Bayan mengatakan bahwa maksud dari rafa’a di sini adalah rafa’a ruhani yakni kenaikan ruhani yang terjadi setelah kematian. Jika tidak demikian maksudnya pasti akan menimbulkan pertanyaan bahwa seorang Nabi datang kedunia hanya untuk mengalami kematian saja. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “Sangat disesalkan bagaimana orang-orang menjadi lupa dalam mengartikan ayat innii mutawafiika wa roofi'uka ilayya padahal di dalam ayat ini pertama disebutkan mutawaffiika artinya mematikan. Sesudah itu roofi'uka artinya mengangkat engkau. Jadi, jika hanya dalam perkataan rafi’uka saja bisa diartikan kematian mengapa di dalam perkataan mutawafika dan rafi’uka tidak bisa diartikan kematian?”



Selain itu Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Adalah perkara yang sangat tegas dan meyakinkan bahwa Hazrat Isa a.s. tidak pernah naik keatas langit bersama jasad beliau, melainkan naik kelangit setelah beliau wafat. Cobalah kita bertanya kepada mereka: “Apakah Hazrat Yahya, Hazrat Adam, Hazrat Idris, Hazrat Ibrahim dan Hazrat Yusuf a.s. setelah wafat diangkat kelangit atau tidak? Jika tidak diangkat kelangit, bagaimana diwaktu mi’raj Rasulullah saw bertemu dengan beliau-beliau itu di atas langit? Jika diangkat maka mengapa semata-mata untuk Isa Ibnu Mariyam saja rafa’a itu diartikan lain dari pada itu? Mengherankan sekali ! Arti perkataan tawaffi yang jelas-jelas menyatakan kematian mengenai Isa a.s. dan arti diangkat juga sebagai contoh nyata terbuka artinya bagi beliau. Sebab beliau telah bertemu dengan orang-orang (para Anbiya) dilangit yang telah diangkat sebelum beliau. Dan jika dikatakan bahwa beliau-beliau itu tidak diangkat kelangit maka saya katakan, bagaimana beliau-beliau itu telah sampai kelangit? Karena beliau-beliau itu telah diangkat maka sampailah beliau-beliau itu keatas langit. Apakah kalian tidak membaca ayat ini dalam Alqur’an wa rofa'naahu makaanan 'aliyyan? Bukankah perkataan rafa’a ini juga yang telah dipergunakan untuk Isa Almasih a.s.? Apakah perkataan itu bukan berarti diangkat? Pikirlah baik-baik, kemana pikiran kalian berkelana?” Jadi, hal itu bukan saja dalil menurut akal, bahkan dengan pemahaman dan pengertian yang benar terhadap Alqur’an Hazrat Masih Mau’ud a.s telah membuktikannya dengan nyata dan gamblang.



Ada seorang yang telah mengaku dirinya ‘alim besar, tentang orang itu saya telah menceritakan melalui MTA (Muslim Television Ahmadiyya) bahwa dia tidak bersedia mempercayai arti rafa’a itu secara ruhani, dia tetap bertahan dengan arti kenaikan secara jasmani. Ketika seorang pemuda Ahmadi pergi untuk menginterview-nya, diwaktu itu ia mengatakan : “Saya jauh lebih terpelajar dari ulama-ulama kalian dan saya telah banyak membaca buku-buku Mirza Sahib (Mirza Ghulam Ahmad a.s.)” Ringkasnya ia mengatakan bahwa dia tidak setuju dengan pengertian yang diberikan oleh Mirza Sahib tentang Rafa’a itu. Jadi, sesungguhnya memberi petunjuk kepada seseorang adalah tugas Allah swt. Abu Jahal dan banyak sekali para Pemimpin dan Pembesar Mekah jika tidak bisa menyaksikan nur Hazrat Muhammad saw atau mereka menganggap Alqur’an sebagai kumpulan syair-syair maka hal itu disebabkan kesalahan akal mereka sendiri yang merupakan nasib buruk mereka. Tindak kebodohan dan kejahilan mereka sama-sekali tidak mempengaruhi keagungan Hazrat Rasulullah saw dan keagungan Kitab Suci Alqur’an. Namun orang-orang yang mempunyai fitrat baik dan lurus dan mendapat pancaran Nur dari Allah swt, mereka telah menyambut kebenaran Hazrat Rasulullah saw. Maka tidaklah mengherankan jika terhadap Ghulam Sadiq, Hazrat Masih Mau’ud a.s. dan pencinta sejati beliau saw diperlakukan serupa seperti itu.



Disatu tempat Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Disetiap tempat di dalam Alqur’an Syarif maksud dari pada rafa’a itu adalah rafa’a ruhani (kenaikan ruhani). Banyak orang dungu mengatakan bahwa di dalam Kitab Suci Alqur’an terdapat ayat: wa rofa'naahu makaanan 'aliyyan mereka menjelaskannya sebagai kisah yang dibuat-buat. Katanya: Ada seorang bernama Idris yang telah diangkat kelangit beserta jasadnya oleh Allah swt. Pendapat serupa itu dikemukakan oleh orang Yahudi. Akan tetapi jika pandangan seperti itu dikemukakan oleh seorang Muslim, maka ia harus berpikir, tentang siapa yang sedang ia takwilkan itu. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda, ingatlah bahwa kisah itu serupa dengan kisah Hazrat Isa a.s. yang dalam mengartikannya telah menjadi kesalahan para ulama Islam. Sebenarnya yang dimaksud dengan rafa’a ini tidak lain adalah Rafa’a ruhani. Dan kenaikan ruhani itu hanyalah bagi orang-orang mu’min, bagi para Anbiya dan para Rasul, sedangkan bagi orang-orang kafir tidak ada kenaikan ruhani, mereka tidak akan faham dengan istilah kenaikan ruhani itu. Dan hal itu mengisyarahkan kepada ayat 41 dari Surah Al Araf ini laa taftahu lahum abwaabussamaa'i artinya bagi mereka tidak dibukakan pintu-pintu langit ruhani. Dan jika kenaikan Hazrat Idris bersama jasad beliau kelangit maka berdasarkan ayat berikut ini fiiha tahyuuna wa fiihaa tamutuuna wa minha tukhrajuun tentang kissah Nabi Adam Tuhan berfirman: Disitulah (di dalam bumilah) kamu sekalian akan hidup dan disitulah kamu sekalian akan mati dan dari padanyalah kamu sekalian akan dikeluarkan (Al ‘Araf : 26).



Beliau bersabda lagi : Menurut ayat tersebut sebagaimana kenaikan Hazrat Isa a.s. keatas langit perkara yang tidak mungkin, maka tidak mungkin pula beliau bisa tinggal di atas langit, sebab di dalam ayat tersebut Allah swt telah memutuskan dengan tegas bahwa siapapun tidak bisa menjalani kehidupan secara jasmani di atas langit melainkan telah ditetapkan tempat tinggal bagi manusia adalah di atas bumi. Selain dari itu di dalam ayat ini perkataan kedua yaitu wa fiiha tamutuuna adalah kamu sekalian akan mati di atas bumi ini. Maka jelaslah firman Tuhan ini bahwa tempat kematian setiap manusia adalah di atas bumi. Jadi, bagi orang-orang Islam para penentang kita pasti mempunyai akidah bahwa pada suatu waktu Hazrat Idris a.s. juga akan turun dari langit kebumi. Jika mereka mengatakan bahwa Hazrat Idris a.s. hidup di atas langit tentu kepercayaan terhadap Nabi Isa a.s. juga seperti itu pula dan mereka menentang pemahaman Hazrat Masih Mau’ud a.s. Padahal didunia ini tidak ada yang mempunyai akidah bahwa Hazrat Idris a.s. akan turun kembali kedunia. Sedangkan kuburan Nabi Idris a.s. terdapat di atas bumi ini sebagaimana kuburan Nabi Isa a.s.-pun sudah ada di atas bumi ini.”



Ringkasnya, jika kenaikan Hazrat Idris kelangit disertai dengan jasad beliau seperti anggapan terhadap Hazrat Isa a.s. maka mengapa mereka umat Islam tidak berakidah seperti itu terhadap Hazrat Nabi Idris a.s. bahwa beliau akan turun kembali dari langit kedunia. Akidah terhadap beliaupun harus serupa dengan akidah terhadap Nabi Isa a.s. Maka jika dilihat dari segi dalil-dalil tidak ada seorangpun dari pihak penentang yang bisa menandingi ilmu kalam (theology) atau menandingi dalil-dalil dan akidah serta pendirian Hazrat Masih Mau’ud a.s. Keadaan orang-orang Islam zaman sekarang ini sangat mengherankan, disalah satu segi mereka sangat keliru mengartikan ayat Khataman Nabiyyin, mereka tidak bersedia menerima kedatangan seorang Nabi dari umat Nabi Muhammad sendiri. Padahal Allah swt telah memberitahukan melalui ayat berikut ini: waakhoriina minhum lamma yalhaquu bihim wa huwal 'aziizul hakiim.

Artinya : Dan Dia akan membangkitkannya ditengah-tengan suatu golongan lain dari antara mereka yang belum pernah bertemu dengan mereka. (Surah Al Jum’ah : 4)



Mereka pasti telah membaca ayat tersebut namun mereka tidak mau faham dan tidak bersedia untuk mempercayainya. Dan mereka tidak menghiraukan sabda Hazrat Rasulullah saw sendiri seperti ini :wa imaamukum minkum dan Imam kamu akan datang dari antara kamu sendiri. Sedangkan dimulut mereka menyatakan cinta kepada Hazrat Rasulullah saw. Mereka Inilah yang disebabkan kejahilan telah menganggap penda’waan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad Masih Mau’ud a.s. sebagai Nabi untuk zaman ini merupakan penghinaan terhadap martabat Hazrat Rasulullah saw. Bahkan mereka menganggap Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. telah manjatuhkan kedudukan Hazrat Rasulullah saw. Padahal sebaliknya merupakan tanda keagungan dan kebesaran Hazrat Rasulullah saw disebabkan kecintaan yang hakiki terhadap beliau saw Allah swt telah mengutus seorang Nabi dizaman ini dari antara umat beliau. Kedudukan beliau sebagai Nabi bukan hanya karena adanya Hubungan erat dengan Allah swt saja, melainkian kedudukan dan kepangkatan kenabian yang diraih oleh Hazrat Masih Mau’ud a.s. semata-mata adanya kesetiaan dan keta’atan sejati terhadap Hazrat Rasulullah saw dan juga beliau datang adalah dari umat beliau saw dan disebabkan kecintaan hakiki terhadap beliau saw, sehingga hal itu semua telah sesuai benar dengan janji Allah swt bahwa Masih Mau’ud akan dibangkitkan dari Kaum Akhirin.



Jadi orang-orang Islam zaman sekarang harus berpikir, dari pada tetap mempercayai Nabi Isa a.s. masih duduk di atas langit sehingga mendukung dan memperkuat pendirian orang-orang Kristian lebih baik percaya kepada seorang yang datang dari umat Hazrat Rasulullah saw sendiri yang akan menjadi hamba beliau saw yang sangat setia demi menghidupkan kembali Islam, sehingga keagungan Hazrat Rasulullah saw semakin menjulang tinggi di atas dunia ini.



Terhadap para penentang dan yang melemparkan kritik dan tuduhan-tuduhan Hazrat Masih Mau’ud a.s bersabda: “Biarkanlah Isa Ibnu Mariyam itu mati sebab dibalik kematiannya terletak kehidupan Agama Islam”. Sebenarnya perkataan Hazrat Masih Mau’ud a.s. itu tidak dimaksudkan demi kehidupan Islam, namun untuk menegakkan da’wa beliau a.s. yang sungguh bertentangan dengan akidah atau pendirian umat Islam dan juga orang-orang Kristen yang menganggap Nabi Isa a.s. akan hidup kembalia kedunia. Semoga Allah swt memberi akal sehat kepada mereka ini !!



Kita semua orang-orang Ahmadi yakin sepenuhnya bahwa diantara para Nabi dan Rasul yang mempunyai derajat atau martabah yang paling tinggi dan luhur adalah Hazrat Rasulullah saw. Dan Nabi yang paling dicintai oleh Allah swt adalah Hazrat Rasulullah saw. Jika terdapat kemungkinan di dalam undang-undang kekuasaan Allah swt bagi manusia untuk naik kelangit dan tinggal disana beserta jasadnya maka tentu Hazrat Rasulullah saw-lah yang lebih berhak untuk melakukan demikian. Selain beliau tidak ada yang lebih berhak untuk itu. Diwaktu peristiwa mi’raj Hazrat Rasulullah saw telah bertemu dengan para Anbiya yang telah wafat jauh sebelum beliau saw. Diantara para Anbiya yang telah beliau jumpai itu adalah Hazrat Isa a.s. dan dengan Hazrat Idris a.s. juga. Namun beliau saw melihat Hazrat Isa a.s. berada dilangit kedua. Sesuai dengan ayat : wa rofa'naahu makaanan 'aliyya dan Kami telah mengangkat-nya (Idris) ke martabat yang tinggi, beliau saw melihat Nabi Idris a.s. dilangit ke-empat lebih tinggi dari kedudukan Nabi Isa a.s. Sedangkan Hazrat Rasulullah saw sendiri terus naik sampai kesidratul muntaha, kedudukan terakhir yang paling tinggi. Sebab martabat beliau paling tinggi dari antara semua para Anbiya. Bahkan di dalam peristiwa Mi’raj itu ketika Hazrat Rasululklah saw dibawa naik sampai kelangit ke-enam dimana beliau bertemu dengan Hazrat Musa a.s. maka beliau (Musa a.s.) berkata kepada Allah swt : robbii...lam akhunna an yurfa'a alayya ?Wahai Tuhanku ! Aku tidak mengira akan ada nabi lain yang dibangkitkan lebih tinggi dari pada-ku, dan dalam martabahnya melebihi ketinggian martabahku!



Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Tengoklah perkataan Rafa’a semata-mata dipergunakan untuk membuktikan tingginya martabat. Sebagaimana disebutkan di dalam surah Albaqarah ayat 254 : wa rofa'a ba'dhohum darojaat dan Dia meninggikan sebagian dari mereka dalam derajatnya. Maka berdasarkan ayat dan Hadis-hadis Rasulullah saw dapat difahami dengan jelas bahw setiap Nabi telah dirafa’ atau diangkat keatas langit menurut derajat dan martabahnya masing-masing. Dan sesuai dengan nilai qurub-nya masing-masing dengan Allah swt mereka mendapat bahagian dari Rafa’a atau pengangkatan itu. Mengenai martabah atau kedudukan dan kemuliaan Hazrat Rasulullah saw di atas Anbiya lainnya yang telah difirmankan Allah swt di dalam Kitab Suci Alqur’an adalah beliau sebagai Khatamun Nabiyyin. Disebabkan orang-orang Islam pada umumnya mempunyai persepsi yang salah tentang ayat Khataman Nabiyyin tidak menyadari bahwa mereka tengah menjatuhkan martabat kemuliaan Hazrat Rasulullah saw dan sebaliknya mereka menuduh Hazrat Masih Mau’ud a.s. tidak memahami arti ayat Khataman Nabiyyin itu. Na’uzubillah !!” Cobalah tengok betapa indahnya Hazrat Masih Mau’ud a.s. telah menunjukkan kedudukan dan martabah Hazrat Rasulullah saw sebagai Khataman Nabiyyin. Dan Tafsir beliau itu telah menjadi bahagian yang amat penting dari pada keimanan orang-orang Ahmadi. Dengan Tafsir beliau yang indah itu nampak jelas sekali kepada kita betapa agungnya dan betapa cemerlangnya kedudukan dan kemuliaan Hazrat Rasulullah saw.



Selanjutnya Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Ingatlah betul-betul bahwa sejauh mana Hazrat Rasulullah saw sebagai Khatamul Anbiyya dan Hazrat Isa a.s. sejak permulaan telah mendapat kedudukan sebagai Nabi, maka bagaimana mungkin Nabi Isa a.s. akan kembali kebumi dan kenabian beliau akan terlepas.” Pertama yang harus diingat adalah jika Hazrat Rasulullah saw sebagai Khatamul Anbiyya, maka tidak mungkin Nabi Isa a.s. yang telah menerima satu pangkat kenabian sebelum Rasulullah saw, lalu beliau a.s. berada dibawah kenabian Rasulullah saw. Apakah setelah kenabian yang diperoleh sebelumnya dilepas lalu Allah swt mengutusnya kembali kedunia dan menjadi Nabi pengikut Hazrat Rasulullah saw ? Jika Isa a.s. datang kedua kalinya, maka kenabian yang diperoleh sebelumnya akan hilang dan kedudukan sebelumnya yang telah Tuhan berikan kepada beliau dengan sendirinya akan sia-sia. Sebab bagaimanapun alasannya beliau terpaksa harus menjadi pengikut Hazrat Rasulullah saw, yang tidak mungkin akan terjadi dan hal itu tidak ada di dalam konsep undang-undang Allah swt.”



Hazrat Masih Mau’ud a..s. selanjutnya bersabda: “Ayat tersebut di atas setelah Hazrat Rasulullah saw menghalangi kemungkinan datangnya Nabi Mustaqil (Nabi yang langsung ditunjuk oleh Allah swt, tanpa harus mengikuti syare’at Nabi sebelumnya). Sesungguhnya hal ini menjadi sarana untuk menambah semaraknya status keagungan beliau saw. Yaitu seorang manusia dari umat beliau, karena limpahan barkat-barkat beliau, pada suatu waktu bisa memperoleh kedudukan sebagai Nabi. Akan tetapi jika seseorang datang dengan sendirinya menjadi nabi tanpa melalui barkat-barkat Rasulullah saw maka jelaslah ia mendustakan dan menentang ayat Khatamun Nabiyyin.



Sabda muqaddas Hazrat Rasulullah saw menjelaskan bahwa kedatangan Isa Almasih Akhir zaman itu bukanlah maksudnya kedatangan Hazrat Isa Israili a.s pengikut Kitab Taurat dan Injil. Dan Hazrat Rasulullah saw berulang kali telah menjelaskan bahwa setelah aku tidak akan datang sebarang Nabi dan Hadis Laa Nabiyya ba’di adalah hadis yang sangat masyhur dan merupakan hadis yang sahih. Dan di dalam Alqur’an Syarif telah dijelaskan dengan gamblang bahwa setelah Rasulullah saw pintu kenabian telah tertutup. Dan bagaimana mungkin setelah Hazrat Rasulullah saw akan datang seorang Nabi hakiki dari segi kenabian ? Dengan keyakinan bahwa Isa a.s. akan datang tanpa menyandang pangkat kenabian tentu Islam harus mengalami kehancuran. Pendapat demikian sungguh penghinaan dan perkara yang memalukan. Apakah seorang yang terhormat yang dilantik oleh Allah swt akan berhenti dari kenabiannya? Jika orang berpendapat demikian bahwa Nabi Isa a.s. akan datang setelah melucutkan pangkat kenabiannya adalah keyakinan yang sangat memalukan dan merupakan penghinaan. Sebab sebelumnya Allah swt telah menganugerahkan martabah kenabian kepada beliau dan telah disebutkan berulang-kali dibeberapa tempat di dalam Kitab Suci Alqur’an, bahkan beliau telah diselamatkan dari tuduhan-tuduhan yang keji terhadap beliau. Beliau bersabda lagi, bagaimana cara yang akan dipergunakan Nabi Isa a.s. datang kembali kedunia? Pendeknya dengan memberi nama Khataman Nabiyyin kepada Nabi Muhammad saw dan di dalam hadis beliau saw sendiri mengatakan Laa Nabiyya Ba’di Allah swt telah memberi keputusan bahwa tidak bisa datang seorang Nabi hakiki setelah Nabi Muhammad saw (yang langsung ditunjuk tanpa mengikuti syari’at Nabi Muhammad saw).



Dan untuk lebih jelas lagi Hazrat Rasulullah saw telah bersabda: “Al Masih Al Mau’ud akan datang dari ummat ini juga sebagaimana di dalam hadis Bukhari telah disabdakan dengan jelas : imaamukum minkum yakni Imam Kamu dari antara kamu sendiri dan di dalam Hadis Sahih Muslim disebutkan faammaakum minkum orang yang mengimami kamu adalah dari antara kamu sediri, semuanya ini mengisyarahkan tepat kepada Al Masih Al Mau’ud (Al Masih yang dijanjikan) bahwa beliau akan datang dari ummat ini.



Di sini saya ingin menjelaskan sebuah perkara lain lagi bahwa pada zaman ini, sebagaimana Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa Al Masih Mau’ud akan zahir dari umat ini dan martabah yang tinggi telah diberikan Allah swt kepadanya sesuai dengan kehendak-Nya. Dan martabah tinggi itu telah diraihnya karena limpahan barkat-barkat Hazrat Rasulullah saw, dan martabat itu telah diraih beliau disebabkan kecintaan hakiki yang sangat dalam beliau terhadap Hazrat Rasulullah saw. Beliau disebut Nabi dan juga Rasul oleh Allah swt.



Banyak orang-orang Ahmadi yang tidak memahami sepenuhnya kedudukan beliau itu atau disebabkan kurang eratnya hubungan mereka dengan Jema’at atau memang mereka itu adalah para anggota pendatang baru di dalam Jema’at masih kurang menerima tarbiyyat, mereka tidak mendengar atau tidak membaca khutbah-khutbah saya atau disebabkan hal-hal lain lagi, mereka tidak bisa meyakini kedudukan atau status Hazrat Masih Mau’ud a.s. sebagai Nabi atau Rasul atau mereka tidak berani menyatakan dengan tegas bahwa beliau adalah Nabi atau Rasul dihadapan orang lain. Atau jika mereka mengakui beliau sebagai Nabi, mereka masih belum berani mengatakan bahwa beliau adalah seorang Rasul. Pendirian atau pendapat demikian sungguh bertentangan dengan ajaran Jema’at dan bertentangan dengan ajaran Hazrat Masih Mau’ud a.s..



Saya telah menerima banyak keluhan atau komplain dari para anggauta Jema’at bahwa dalam menghadapi ghair Ahmadi diwaktu tabligh atau diwaktu berbual-bual diantara para anggauta Jema’at sendiri terjadi pembahsan yang seperti itu bahwa Hazrat Masih Mau’ud a.s adalah seorang Nabi namun bukan seorang Rasul. Maka perlu dijelaskan di sini bahwa Al Masih Al Mau’ud a.s. berkat patuh dan ta’at sepenuhnya kepada Hazrat Rasulullah saw beliau a.s. mendapat anugrah pangakat Nabi dari Allah swt dan sebagai Rasul juga, seperti telah saya katakan sebelumnya berulang kali. Dan kedua perkataan Nabi dan Rasul itu sama saja maksudnya. Tentang ini Hazrat Masih Mau’ud a.s bersabda sambil mengingatkan kepada wahyu beliau ini : “ ???? ???? ???????? ??????????? ????? ???????????????? ???????????? ????? (Artinya :Katakanlah! Jika kamu sekalian ingin mencintai Allah maka ikutilah aku sepenuhnya, maka Allah akan menciuntai kamu sekalian). Kedudukan ini merupakan kedudukan yang harus direnungkan oleh setiap orang Jema’at kita, sebab Tuhan berfirman di dalamnya bahwa kecintaan Tuhan sangat erat hubungannya dengan kecintaan dan keta’atan sepenuhnya jangan ada sekelumit zarrahpun perilaku yang sifatnya menentang. Di dalam wahyu Ilahi yang disebutkan tentang diriku sebagai Nabi dan Rasul yaitu Nabi dan Rasul Allah swt, adalah sebagai istilah bahasa, yaitu orang yang menerima banyak wahyu langsung dari Allah swt dan secara meyakinkan Tuhan bercakap-cakap kepada-nya, sebagaimana Tuhan telah menurunkan wahyu dan bercakap-cakapa kepada para Anbiya sebelumnya, maka ia disebut Nabi atau Rasul tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan sangat jelas sekali keadaannya jika dirujuk kepada Hadis Sahih Bukhari dan Hadis Sahih Muslim bahkan dirujuk kepada Injil sekalipun tentang Nabi Danial, dimana terdapat nubuwatan tentang diriku disana jelas-jelas disebutkan dengan perkataan Nabi. Semoga Allah swt memberi kekuatan dalam keimanan kita dan semoga Dia tidak memperlihatkan sebarang kelemahan di dalam keimanan dan keyakinan kita. Amin !!



Sekarang sehubungan dengan makna perkataan Rafa’a saya ingin mengemukakan sebuah penjelasan lagi, bahwa perkataan Rafa’a tidak hanya dipergunakan kepada para Anbiya saja namun kepada orang-orang mukmin juga Allah swt mempergunakannya. Sebagaimana Hzrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “Apabila orang-orang mukmin selalu mendahulukan urusan perkerjaan Allah swt dari pada semua urusan pribadi mereka maka Allah swt mengangkat atau Rafa’a kedudukan mereka. Di dalam peri kehidupan didunia ini juga mereka diangkat (Rafa’a) ketempat yang sangat tinggi dan diberi kekuatan serta keteguhan bahkan akan disinari dengan cahaya yang khas (istimewa). Dalam kedudukan seperti itu mereka akan terlepas dari cengkeraman Syaitan dan kedudukan mereka semakin meningkat keparas yang lebih tinggi sehingga tangan Syaitan tidak akan mampu menggapai mereka. Bagi setiap benda didunia ini Allah swt menentukan sebuah contoh dan suri teladan, dan terhadap ketentuan inilah telah dinisbahkan bahwa apabila Syaitan mulai naik kearah langit maka sebuah Syihab-o-saqib (sebuah meteor, atau kobaran bola api yang terang-benderang) mengikutinya dari belakang, kemudian menjatuhkannya kebawah. Saqib dikatakan kepada bintang yang bercahaya terang, saqib juga dikatakan kepada benda atau orang yang naik ketingkat yang paling tinggi.



Di dalam hal itu dijelaskan sebuah permisalan tentang keadaan manusia. Apabila manusia telah memperoleh keimanan yang kuat dan hakiki, maka dia naik (Rafa’a) kearah Allah swt. Dan kepadanya diberikan kekuatan iman yang khas disertai nur yang cemerlang, dengan perantaraan cemerlangnya nur itu dia menjatuhkan Syaitan kebumi. Saqib juga artinya membunuh atau mematikan. Wajiblah di atas setiap orang mukmin untuk membunuh syaitannya masing-masing dan menghancurkannya. Orang-orang yang tidak mengenal sains atau ilmu kerohanian mereka mentertawakan pernyataan seperti ini. Akan tetapi mereka sendiri yang patut menjadi sasaran cemoohan dan ejekan orang lain. Ada undang-undang kekuasaan Tuhan yang sifatnya zahiriyah dan juga ruhaniah. Allah swt juga telah berfirman di dalam wahyu-Nya kepada saya : anta minni bi manzilatim-najmits-tsaaqib yakni kedudukan engkau disisi-Ku adalah seperti Najmus Saqib, artinya Aku telah menciptakan engkau kedunia untuk membunuh Syaitan. Ditangan engkau syaitan akan hancur binasa. Syaitan tidak bisa naik sampai kapuncak yang tinggi. Jika orang mukmin sudah sampai kepuncak yang tinggi maka syaitan tidak akan bisa mengalahkannya. Orang mukmin harus banyak memanjatkan do’a supaya dengan do’a itu ia mendapat kekuatan yang perkasa sehingga ia mampu menghancurkan syaitan. Seberapa banyak timbul pikiran-pikiran buruk di dalam benak manusia, untuk menjauhkannya sangat bergantung kepada usaha menghancurkan syaitan. Orang-orang mukmin dalam segala upayanya harus selalu disertai dengan pendirian yang kuat dan hati yang teguh. Jangan patah semangat, bahkan harus selalu siap untuk mengancurkan tipu daya syaitan, sehingga akhirnya akan mencapai kemenangan dan kejayaan. Allah swt Maha Raihim dan Karim, Maha penyayang dan Maha Mulia. Orang-orang yang selalu giat berusaha untuk berjuang akhirnya Allah swt memperlihatkan hari kejayaannya. Manusia akan mendapat kedudukan yang sangat besar dan tinggi apabila ia telah berhasil menghancurkan segala upaya syetan. Semoga Allah swt memberi taufiq kepada kita semua untuk memahami arti sesungguhnya dari perkataan Rafa’a. Dan semoga kita tidak menjadi orang-orang yang hanya sibuk membahas apa arti Rafa’a itu melainkan kita menjadi orang-orang yang selalu berusaha giat untuk memperbaiki amal saleh demi meraih keridhaan-Nya. Supaya dengan terjalinnya hubungan yang sangat erat dengan Allah swt kita tergabung kedalam golongan orang-orang yang telah berhasil menghancurkan leburkan syaitan. Amin !!



Alihbahasa dari Audio Urdu oleh Hasan Basri

Singapore, 21-07-2009



Read More......
Jazakumullah ahsanal jaza